TERE LIYE "PULANG"
Diterbitkan oleh:
Republika Penerbit
Kav.Polri Blok I No. 65
Jagakarsa.Jakarta 12260
Tahum Terbit 2015
iv+ 400 hal ; 13.5×20.5 cm
Penulis. : Tere Liye
Editor. : Triana Rahmawati
Cover. : Resoluzy
Lay out. : Alfian
BAB. : 25
Cerita berawal berawa berawal dari talang(pedesaan) di pedalaman Sumatra. Di sana hidup seorang jagal yang sudah pensiun bernama Samad. Ia tinggal bersama istrinya Hamidah dan dikaruniai seorang anak bernama Bujang(Agam). Bujang dididik ilmu pengetahuan dan ilmu agama oleh Hamida, tetapi Samad tidak suka Bujang belajar ilmu agama. Jika bujang ketahuan sedang belajar agama, maka samad akan memukulinya habis-habisan.
Suatu hari datanglah Tauke besar, teman Samad dari kota. Mereka sangat akrab hingga Tauke menganggap Samad sebagai saudara angkatnya. Tauke datang bersama rombongan karena diundang Samad untuk mengatasi babi liar yang mengganggu kebun warga di Talang.
Malam harinya berangkatlah Tauke besar dan rombongan ke dalam hutan untuk berburu babi hutan. Dalam rombongan itu ada Bujang anak Samad. Meskipun Hamidah melarang Bujang untuk ikut, tetapi akhirnya ia setuju setelah Samad membujuknya. Dengan bersenjatakan tombak milik bapaknya, Bujang pun ikut berburu bersama Tauke dan rombongan. Satu persatu babi hutan berjatuhan, rombongan terus masuk ke hutan yang paling dalam untuk menghabisi babi hutan sampai ke akar-akarnya. Pertarungan seru terjadi ketika seekor babi hutan sebesar sapi dewasa mengamuk. Babi itu menyeruduk siapa saja yang ada di depanya, semua rombongan menjadi korbannya, tak terkecuali Tauke. Bujang yang melihat Tauke dan rombongan yang lain terluka, memutuskan untuk melawan. Saat itulah rasa takut seperti telah dikeluarkan dari dadanya. Bujang anak talang pedalaman sumatra melawan babi buas itu dengan sekuat tenaga. Hingga pada akhirnya babi buas itu tak berdaya, tombak bujang menembus moncong hingga ke punggung babi tersebut.
Kejadian melawan babi hutan menjadi awal kisah hidup baru bagi Bujang yang waktu itu masih 15 tahun. Tauke Muda mengajaknya pergi ke kota. Ia meminta Bapak dan Mamak Bujang mengizinkannya pergi. Bapaknya setuju, mamaknya berat melepaskan. Namun ia tak kuasa menolak. Ini adalah bagian dari perjanjian antara Bapak Bujang dengan Tauke Muda. Lagi pula ia ingin putra semata wayangnya itu maju. Tak hanya berkutat dengan hutan dan ladang di Talang. Sebelum keberangkatan sang anak, mamak menitipkan pesan yang begitu berharga,“Berjanjilah kau akan menjaga perutmu (dari makanan dan minuman haram dan kotor) itu, Bujang. Agar…. Agar besok luka, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik yang putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.”
20 tahun kemudian. Saat Bujang, anak Talang nan malang itu berubah menjadi pribadi yang sangat mantap. Akademis, kokoh, dan bermata tajam. Ia menemui calon presiden terkuat. Memperingatkannya agar tak mengubah apapun. Tak mengusik bagaimanapun bisnis Keluarga Tong yakni bisnis shadow economy (ekonomi bayangan).
“Shadow economy adalah ekonomi yang berjalan di ruang hitam, di bawah meja. Oleh karena itu orang juga menyebutnya black market, underground economy. Kita tidak sedang bicara tentang perdagangan obat-obatan, narkoba, atau prostitusi, judi dan sebagainya. Itu adalah masa lalu shadow economy, ketika mereka menjadi kecoa hitam dan menjijikan dalam sistem ekonomi dunia. Hari ini, kita bicara tentang pencucian uang, perdagangan senjata, transportasi, properti, minyak bumi, valas, pasar modal, retail, teknologi mutakhir, hingga penemuan dunia medis yang tidak ternilai, yang semuanya dikendalikan oleh institusi ekonomi pasar gelap. Kami tidak dikenal oleh masyarakat, tidak terdaftar di pemerintah, dan jelas tak diliput media massa….. Kami berdiri di balik bayangan. Menatap sandiwara kehidupan orang-orang.
Selepas itu alur kembali berkelindan ke masa lalu. Saat kali pertama Bujang sampai di kota. Bertemu banyak kawan baru. Salah satunya Basyir, seorang anak muda yang terobsesi menjadi seperti ksatria penunggang kuda suku Bedouin. Kini jelas apa tujuan Bujang diajak oleh Tauke Muda. Ia akan dilatih seperti bapaknya, menjadi tukang pukul nomor satu Keluarga Tong.
Meski begitu, jauh panggang dari api. Harapan itu menguap, bukannya berlatih silat dan beladiri, Bujang malah diminta belajar “memukuli kertas dengan pulpen” dibimbing Frans, guru asal Amerika. Bujang bosan. Ia lantas meminta Tauke mempersamakannya dengan teman yang lain: berlatih beladiri dan ikut operasi.
Tauke tetap pada pendirian. Hingga tiba saat kesabarannya hampir habis, Tauke menantang Bujang ikut ritual amok. Ritual itu simpelnya, satu orang melawan puluhan bahkan ratusan petarung. Jika satu orang itu mampu menahan gempuran dalam waktu tertentu, ia menang. Bujang hanya diminta bertahan dua puluh menit. Sayang ia hanya bertahan 19 menit. Ia gagal, sehingga ia tetap harus belajar bersama Frans.
Namun hikmah dari peristiwa amok, ia bisa punya kesempatan belajar bela diri. Selepas belajar dengan buku dan pulpen di siang hari, ia belajar tinju di malam hari. Guru pertamanya adalah Kopong. Komandan tukang pukul Keluarga Tong. Berhari-hari bahkan berbulan-bulan ia berlatih, amat keras. Akhirnya Bujang berhasil meng-KO gurunya itu. Itu artinya latihan tinjunya selesai dan harus berganti guru.
Guru berikutnya tak kalah hebat, Guru Bushi namanya. Asli Jepang, ia adalah salah satu Samurai yang masih tersisa di zaman modern ini. Bersama Guru Bushi Bujang berlatih menggunakan pedang, katana, shuriken, dll. Latihan yang seru bersama mantan ninja yang andal itu. Berbulan-bulan Bujang terus berlatih. Hingga tiba saat Guru Bushi mengatakan cukup.Guru Busyi mengajari Bujang ilmu ninja dan bagaimana menggunakan samurai. Tetapi pelajaran dari ahli samurai jepang itu harus putus di tengah jalan ketika guru Busyi mendengar anaknya meninggal.
Lantas Bujang berlatih dengan Salonga. Seorang penembak jitu asal Filipina. Dengan guru menembaknya itu ia juga belajar filosofi hidup. Selain berlatih beladiri, Bujang juga terus melanjutkan sekolah. Ia bahkan mengenyam pendidikan magister di luar negeri.
Setelah belajar dengan berbagai guru Bujang telah dipanggil dengan sebutan "SI BABI HUTAN",setelah 20 tahun kemudian ia mendapatkan masalaha dari beberapa keluarga seperti keluarga Lin yang mencuri prototype pemindai dan membuat perang kepada keluarga tong,untuk mengambil kembali Bujang membutuhkan tim elitnya yaitu White (anaknya Frans) dan si kembar yuki dan kiko.
Tetapi setelah keluarga Tong telah berjaya munculah penghianat yang membuat keluarga Tong diserang oleng penghianat yang membuat bujang terkecau dan akhirnya bujang mengetahui penghianat itu ternyata basyir dan teman arabnya namun Bujang berhasil menyelamatkan Tauke besar.
Setelah itu bujang diselamatkan oleh tuanku imam dan mengajari bujang mengenal agama islam sampai bujang setelah itu bujang berperang lagi dengan keluarga lain karena hutang peperangan dilakukan di gedung kantor parwez.namun empat minggu setelang peperangan Bujang memeutuskan menjenguk pusaran mamak dan bapak di talang.
"mamak bujang pulang hari ini. Tidak hanya pulajg bersimpuh di pusaranmu,tapi juga telah pulang kepada panggilan tuhan . sungguh sejauh apa pun kehidupan menyesatkan segala apapun hitamnya jalan yang kutempuh Tuhan selalu memanggilku kami untuk.anakmu telah pulang ". lima belas menit kemudiam bujamgbsudah !engenakan pakainyanya dan menuju lapangan dekat ladang padi disana telah menunggu helikopter.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar